Wednesday, October 29, 2008

Perkembangan banner store yg semakin memprihatinkan

Masih ingat tentang tianshi yang sesumbar banner store bakal menguasai industri retail dunia??

berikut berita bulan april dimana tianshi tetap sesumbar banner store akan berkembang, walau faktanya banyak yg TUTUP :

Tiens Plans To Open More BannerStores In 2008

Li Jinyuan, president of Tiens Group, told First Financial Daily that BannerStore, a supermarket brand owned by Tiens Group, will start its global expansion in 2008.

Apart from opening 2,000 franchise chain stores abroad, the group will invest money to open 1000 domestic Chinese stores. In addition, it formally starts cooperation with China Post Logistics Corporation to realize the greater development.

In 2007, Tiens Group formally announced its entry into the retail industry. It invested US$250 million to build up BannerStore Retailing International Investment Group. On February 8, 2007, its first global flagship store opened in its headquarters in Tianjin. Then the company announced plans to open more BannerStores in Beijing, Tianjin, Baoding, Harbin and Zhengzhou. Those stores are mainly franchise ones.

However, some BannerStores have gone out of business recently. In regards with this situation, Li explains that the group is liquidating franchises. It is true that some stores are closed, but it does not mean there is problem in its operating format, he says. In contrast, with one-year operating experience, the group is more confident in its BannerStore. The reason for shutting stores is only because the performance of those stores did not meet the standard of the company, he adds.

sumber

bisa di baca juga analisa kami waktu itu di sini


DAN berikut ini berita terbaru banner store.

Tiens Closes BannerStore In Beijing

According reports from local media, Tiens Group has closed its only supermarket in Beijing — the outlet operated under the brand name of BannerStore.

A representative from the leasing department of Beijing Ocean International Mansion said that BannerStore had only one outlet in Beijing, which lead to inconvenience in distribution and management as well as high logistics costs. In addition, the labor costs of the store were higher than general supermarkets. These factors contributed to the difficulties BannerStore had in making a profit in Beijing.

In fact, apart from the Beijing store, some of BannerStore's franchise stores started to close earlier this year. BannerStore's first global flagship store, which was opened in Tianjin in February 2007, was closed earlier this year, and its only store in Harbin also ceased trading around the time when the Beijing store was closed.

This contrasts with Tiens Group's strong determination to enter the retail industry. In December 2006, the group announced that it would invest USD250 million to establish the BannerStore Retailing International Investment Group to explore relevant businesses in China. In February 2007, the company opened its first global flagship store in Tianjin and announced it would actively develop the Tianjin market while expanding to major cities in North China and Northeast China.

Li Jinyuan, president of Tiens Group, had said that the company planned to open 400 outlets in China within three years and set up 1,000 directly-managed supermarkets by 2009. By 2010, BannerStore would have 4,000 supermarkets around the world by direct management and franchise.

So far, although BannerStore says on its official website that it has more than 500 stores in 105 countries, including the United States, Britain, Germany, Russia, and Indonesia, it has few stores in China. Statistics on the website shows that the company only owns three BannerStore supermarkets and 32 BannerExpress convenience stores in China.

sumber


bisa dibaca disana bannerstore berguguran di china sana, tp tetep aja mr li sesumbar banner store bakal meledak. dan bisa di baca pada paragraf terakhir.
di websitemya mereka mengaku mempunyai lebih dari 500 toko di 105 negara termasuk USA, Inggris, Jerman, Rusia dan Indonesia. dan ternyata statistiknya di china cuman ada 3 banner store, lalu sisanya tersebar di 105 negara!!!
luar biasa!! luar biasa!! lebih luar biasa lagi kalau upline anda bisa kasih daftar 500 banner store di 105 negara tersebut... tp sayang ga akan bisa. ahahhahaa...


Ingin memberi tanggapan? datang saja ke :
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=865698

atau bila anda sekalian memiliki berbagai keluhan/pengaduan mengenai tianshi? lgs saja hubungi kami lewat : :
pr@tianshi-watch.com




Wednesday, October 1, 2008

jurnal ilmiah tentang MLM

@Rekan2 TW
Selamat sore, salam dari Jepang.

Kebetulan lagi agak 'iseng', lalu bongkar2 ScienceDirect (kumpulan jurnal international), eh berhasil menemukan beberapa Jurnal International yang membahas tentang MLM. Jadi ingin membagikan pada rekan2 sekalian. Mohon maaf bagi yang berkeberatan.

Oke, Jurnal2nya:
1. Palima and Saloma, C. (2008) Earning Potential in multilevel marketing enterprises. Physica A. 387(19-20), 4889-4895.
2. Grayson, K. (2007) Friendship Versus Business in Marketing Relationship. Journal of Marketing. 71, 121-139.

Mari kita bahas satu per satu. Bagi yang malas membaca karena terlalu panjang, saya gunakan function spoiler. (Mudah2an berhasil)
Pendapat umum, semua yang ditulis di dalam jurnal ini sangat sesuai dengan hasil telaah rekan2 TW sekalian, a very well done job, guys!
Jadi, mungkin yang saya share di sini sudah dimengerti oleh rekan2 sekalian, sekali lagi mohon maaf .

Jurnal pertama

download di sini

Abstract

Government regulators and other concerned citizens warily view multilevel previous termmarketingnext term enterprises (MLM) because of their close operational resemblance to exploitative pyramid schemes. We analyze two types of MLM network architectures — the unilevel and binary, in terms of growth behavior and earning potential among members. We show that network growth decelerates after reaching a size threshold, contrary to claims of unrestricted growth by MLM recruiters. We have also found that the earning potential in binary MLM’s obey the Pareto “80–20” rule, implying an earning opportunity that is strongly biased against the most recent members. On the other hand, unilevel MLM’s do not exhibit the Pareto earning distribution and earning potential is independent of member position in the network. Our analytical results agree well with field data taken from real-world MLM’s in the Philippines. Our analysis is generally valid and can be applied to other MLM architectures.

Keywords: Multilevel previous termmarketingnext term; Compensation plans; Small world network; Pareto distribution

pembahasan jurnal pertama:

Jurnal ini membahas mengenai bagaimana perkembangan MLM dilihat dari sisi growth dan profit mereka.
Biar gak panjang2, saya singkat saja apa hasilnya menurut jurnal mereka:
1. Ada dua macam MLM, Unilevel and Binary (gampangnya, binari itu yang kakinya cuman dua-dua terooos)
2. Ada batas dalam perkembangan MLM, tidak mungkin MLM terus berkembang infinitely, suatu saat pasti 'kebentur' batas jumlah populasi.
3. Pendapatan MLM binary sesuai dengan hukum Pareto 20-80, dimana 20% member lama akan menikmati 80% hasil.
4. MLM Unilevel tidak sesuai dengan hukum Pareto.
5. Pendapatan MLM didapat dari: profit penjualan(kepada semua pembeli), profit pairing (hanya dalam binary, sistem sponsor), profit referral (insentif dari merekrut member baru)
6. US memerintahkan jika member MLM harus menjual setidaknya 70% barang yang dia stock (lebih disukai jika dijual ke non member) sebelum membeli barang lagi. Jadi bukan beliiii terooos sampai naik bintaang! Ada dalam US Federal Trade Commision Rule. Mungkin rekan TW bisa browsing untuk lebih jelasnya?

Saya tidak akan bicara mengenai teknisnya, bahasanya sangat matematis dan menggunakan banyak turunan plus eksponensial function.

Hubungan dengan Tianshi

Jika dilihat sepintas, kelihatannya Tianshi ini termasuk MLM unilevel, bukan binary.
Hm? Kalau begitu hukum Pareto tidak berlaku dong! Hidup Tianshi! Go Freedom! dll, dst.
Tunggu dulu.....
Mari kita lihat point2 ini:
1. Dalam pembahasan jurnal ini, menurut saya Tianshi merupakan gabungan dari kedua jenis MLM tersebut, dan mengambil bagian jelek2nya saja.
2. Profit penjualan barang dalam Tianshi menganut sistem yang invert/kebalik. Dalam jurnal, diasumsikan secara general jika makin atas upline, makin kecil bonus yang ia dapat terhadap downline yang hirarkinya makin jauh terhadap dia. Tetapi dalam Tianshi makin atas upline, tidak peduli bagaimana prosentase bonus akan makin membesar!
3. Profit pairing ada dalam Tianshi (promoting bonus), dicampur dengan profit penjualan (pemaksaan beli?), dimana sekali lagi makin atas prosentase bonus akan makin membesar.
4. Profit referral, well, sekali lagi dikombinasikan dalam berbagai bonus milik Tianshi, dengan makin atas prosentase bonus makin membesar.
5. Ada profit 'bagi hasil dari penjualan mendunia' jika mencapai tingkat 'di atas awan'. Hal ini kontradiksi dengan pengakuan jika member Tianshi bukanlah distributor resmi Tianshi. Lalu siapa yang memanage pembagian tersebut jika pihak pabrik lepas tangan? Siapa yang mengetahui laporan keuangan distributor 'tidak resmi' seluruh dunia? Ini adalah 'anomali' Tianshi terhadap MLM yang dibahas dalam jurnal.

Seharusnya:
1. Makin ke atas maka prosentase bonus akan turun proporsional hingga tingkatan tertentu di bawah upline tersebut sudah 'tidak mendapat bagian' dari omset downline. Upline mendapat bonus dengan jumlah 'sewajarnya' melalui 'economy of scale/jumlah downline yg banyak, walau prosentase sedikit tapi dengan jumlah downline banyak bonus sudah 'banyak secara wajar'.
2. Banyak anggota member Tianshi yang menumpuk stock/membeli barang dengan niat meningkatkan bintang tanpa menjual. Akibatnya pendapatan lebih kecil dari pengeluaran. Seharusnya mereka lebih aktif untuk menjual produk, bukan naikin bintang.

Dampak:
1. Dengan makin tinggi grade member, makin besar prosentase Bonus akan 'melukai' cashflow perusahaan mereka, karena 'bonus' yang didapatkan menyedot banyak 'profit' yang dihasilkan, baik melalui penjualan produk atau membership fee.
2. Untuk mencegah hal ini terjadi, mereka harus 'giat' mencari member baru sebagai 'darah baru' untuk menjamin agar cashflow mereka tetap berjalan.
3. Diadakan seminar, dvd, dll dengan dikenai biaya untuk 'menyokong' cashflow 'perusahaan mereka', plus ajang untuk mencari anggota.
4. Jika suatu saat treshold tercapai/anggota baru udah mentok, efeknya akan langsung terasa drastis.
5. Tanda jika mereka mulai 'kekurangan' anggota baru bisa dilihat dari tingkat intensitas mereka melakukan 'conference/seminar'. Silahkan dicek .

Jurnal ke dua

download di sini

Absracts

Although combining friendship and business in the same relationship can be beneficial, it can also create conflict. A source of this conflict is incompatible relational expectations. True friends are expected to be unmotivated by
benefits that can be used beyond the relationship (e.g., money, status), whereas business partners are, by definition, at least partly motivated by these more “instrumental” concerns. Using a role theory framework and data
collected from a survey of 685 direct-selling agents, this article reports evidence that a conflict between friendship and instrumentality can undermine some of the business outcomes that friendship might otherwise foster. It also suggests that this conflict is more severe for friendships that become business relationships than for business relationships that become friendships. Study conclusions do not suggest that friendship is entirely “bad” for business and, instead, propose that friendship’s influence can be both positive and negative.

pembahasan

Jurnal kedua ini membahas mengenai bagaimana orang menyikapi persahabatan mereka jika berhubungan dengan bisnis, terutama MLM. Sudah menjadi hal yang jamak jika member MLM pertama2 akan mencari calon member pada keluarga sendiri plus teman2nya daripada orang yang sama sekali asing. Hasil dari penelitian adalah:
1. Konflik akan terjadi. Teman adalah teman, bisnis adalah bisnis. Jika teman dicampur dalam ranah bisnis, konflik akan terjadi.
2. Konflik lebih parah pada tingkatan dari teman diajak jadi mitra bisnis (MLM) daripada dari mitra bisnis dijadikan teman.
3. Konflik yang terjadi malah akan 'merusak' bisnis yang akan dirajut.
4. Tidak semua persahabatan 'jelek' untuk bisnis. Tapi sebagian besar persahabatan bisa 'hancur' akibat bisnis.

Saya tidak perlu bicara terlalu banyak tentang hal ini. Saya rasa rekan2 TW sendiri sudah banyak mengalami dan banyak testimony yang memberikan bukti konkrit atas jurnal ini.
Cuma, hal ini bisa dijadikan acuan yang menarik.

Phew, demikianlah monolog saya

Setidaknya jika ada yang bertanya:
1. Kata siapa MLM itu suatu saat hancur/tidak berkembang? Ngemeng aja, dasar orang Negatif! Sudah miskin sombong! Plus kebun binatangnya. Mana buktinya, halah itu kan kata anda, dll, dst.
2. Siapa bilang ikut MLM merusak persahabatan? Jangan asal ngomong elo! Tunjukin bukti!

Ternyata, ladies and gentlement, ada bukti valid dan otentik dalam bentuk Jurnal International untuk pertanyaan2 di atas

Once again, mohon maaf akan puuuuaaaaanjaaaangnya monolog saya.

Dewa, minasan, dozou youroshiku onegaiitashimashu

special thanks for momiji_manju atas "monolog"nya.

pertanyaan dari kami kenapa ada perbedaan antara kajian ilmiah di siencedirect dengan orang-orang yg ngaku "ahli" MLM di APLI padahal belum pernah membuat jurnal ilmiah?

---update---

untuk kemudahan kedua jurnal tersebut dapat di download di sini